• Happy Shopping at Z4 Collections - Berbelanja mudah dan praktis. Banyak pilihan produk yang tersedia.
Beranda » Blog » My Passion

My Passion

Diposting pada 7 June 2022 oleh admin / Dilihat: 148 kali / Kategori:

Z4 Collections. com – Koleksi Fashion Terkini. Blog ini didedikasikan untuk motivasi dan sharing pengalaman bagi siapapun. Berbagi pengalaman bisa ada manfaat bagi yang sedang mencari solusi dalam urusan keseharian, kebuntuan dalam mencari peluang menuju keberhasilan, dan banyak hal yang berkaitan dengan masalah personal.

Dalam posting ini Admin Z4 Collections membuat satu karya tulis yang masih dalam proses penyempurnaan, tetapi tidak mengurangi respek terhadap penulisnya kami sajikan pada bagian awal karya tulis itu.

“My Pasion” 

My Passion

  • Kenangan saat kanak – kanak
  • Mengabadikan setiap kenangan dalam rangkaian kata
  • Kendala saat menulis
  • Terus berusaha dan berusaha

“Tiara, ayo dihabiskan makanannya” seruan ibu terdengar dari dalam

“Iya Bu, sebentar, Tiara sedang menyelesaikan tulisan Tiara” sahutku sambil terus menekuni tulisanku.

“Ayo nak, makanannya dihabiskan dulu, baru kamu lanjutkan menghayalnya” tiba-tiba Ibu sudah didepanku.

Akupun menyeringai, sambil mengunyah makananku dengan cepat. Supaya omelan ibu tidak menjadi lebih panjang dan lebar.

“Ti tidak sedang menghayal, Ibu. Ini adalah pengalaman nyata Titi saat kita pergi ke Jawa Tengah bulan lalu” jelasku kepada Ibu. Ah, Ibu ini masak aku dibilang menghayal sih.

“Ya sudah, selesaikan setelah ini, kalo sudah selesai, Ibu baca ya” ujar Ibu sambil mengelus kepalaku

“Iya Bu. Ini sudah hampir selesai kok” jawabku sambil mengulurkan 3 lembar hasil tulisanku.

Ibu tersenyum sambil mengacungkan jempol, lalu beranjak pergi meninggalkanku.

Akupun segera menghabiskan makananku, kemudian kembali berkonsentrasi melanjutkan tulisanku. Aku merasa kata-kata sudah menari-nari didalam otakku. Dengan diksi yang indah, sesuai dengan imajinasi kecilku. Aku berangan-angan kelak aku akan menjadi seorang penulis, seperti yang aku baca di majalah Bobo favoritku saat itu.

Ya, saat itu aku berumur 9 tahun. Aku Tiara Diyanti. Aku beruntung dilahirkan oleh Ibu dan Ayah yang sangat mendukung keinginanku. Sejak kecil, aku suka sekali menulis. Aku suka menggambarkan keadaan yang sedang kuhadapi. Saat itu aku tuliskan dalam sebuah buku diari dan aku suka bercerita tentang hal apapun di sana.

Dan, pada waktu aku kelas 4 Sekolah Dasar, Ayah dan Ibu mengajak kami, aku dan adikku untuk berkunjung kerumah kakek dan nenek di Jawa Tengah, untuk berlebaran disana. Ini adalah kali kedua kami berlebaran di kampung halaman Ayah. Pada saat itu, dapat pergi keluar pulau merupakan hal yang sangat luar biasa bagi penduduk di kampong kami. Oya. Kami tinggal di Pulau Kalimantan, tepatnya di kota Pontianak.

Sejak Ayah dan Ibu berkata kepadaku bahwa kami akan merayakan Hari Raya Idul Fitri di Jawa Tengah, aku senang sekali. Aku sudah membayangkan, bagaimana nanti kami naik pesawat terbang, melihat hamparan awan yang seperti kapas. Menikmati irama jantung yang tak karuan ketika pesawat menabrak awan tersebut. Rangkaian kata-kata seperti sudah menari-nari dalam otakku. Aku ingin bercerita apapun hal yang kunikmati di perjalanan ini, dan sebuah buku diari tebal pun telah aku siapkan didalam tas kecilku saat itu.

Tibalah hari yang ditunggu. Sejak shubuh Aku, Ayah, Ibu dan adikku yang berusia 2 tahun telah bersiap. Di Bandar Udara Supadio Pontianak, aku dan adikku melihat pesawat yang sedang parker berjejeran di hangar. Ketika pesawat lepas landas, aku meminta untuk duduk di dekat jendela. Pagi itu, cuaca sangat cerah. Aku bisa melihat awan-awan yang seperti kapas dari jendela pesawat. Di sisi lain, langit biru terbentang luas. Sungguh indah sekali langit terlihat dari atas. Akupun sempat berkhayal saat itu, aku ingin duduk di atas tumpukan kapas halus itu. Mungkin sambil aku cemilin sedikit-sedikit. Hahaha .. Ibuku langsung tertawa, mendengar khayalanku.

“ Emang kamu pikir, itu gulali yang bisa kamu makan” kata Ibuku menyanggah hayalanku

Akupun tertawa, gulali memang enak, kalau di daerahku, namanya “rambut nyonya”, dulu sangat disukai oleh anak-anak seperti kami.

Alhamdulillah, akhirnya kami sampai di Bandara Internasional Soekarno – Hatta. Kami pun segera menuju kerumah Paman dan Bibi di wilayah Jakarta Timur.

Selama kami di Jakarta kam

i sempat mengunjungi Monumen Nasional atau yang disingkat dengan Monas atau Tugu Monas. Monas adalah monumen peringatan setinggi 132 meter (433 kaki) yang didirikan untuk mengenang perlawanan dan perjuangan rakyat Indonesia untuk merebut kemerdekaan dari pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Pembangunan monumen ini dimulai pada tanggal  17 Agustus 1961 di bawah perintah presiden Soekarno dan dibuka untuk umum pada tanggal 12 Juli 1975. Tugu ini dimahkotai lidah api yang dilapisi lembaran emas yang melambangkan semangat perjuangan yang menyala-nyala dari rakyat Indonesia. Monumen Nasional terletak tepat di tengah Lapangan Medan Merdeka, Jakarta Pusat.

Kami segera mengunjungi kampung halaman Ayah di sebuah desa di Kutoarjo, Jawa Tengah. Untuk mencapai desa tersebut, Ayah dan Ibu memilih menggunakan kereta api, supaya tidak terlalu capai, katanya. Kami pun berangkat beramai-ramai, bersama keluarga Paman dan Bibi yang ada di Jakarta. Akupun begitu antusias ketika perlahan kereta melaju meninggalkan ibukota. Berjalan diatas rel, dengan suara yang khas. Hal tersebut begitu terekam di dalam otakku. Bagaimana kami melewati sawah, pegunungan, sungai dan lorong panjang terowongan. Tiang listrik yang bejejeran di pinggir rel juga menarik perhatianku. Ah, anak kecil memang suka berkhayal. Begitupun ketika kami menikmati suasana sawah di desa. Menaiki sapi yang membajak sawah. Menaiki kereta kuda keliling perkampungan. Semua tak luput terekam dalam memoriku. Dan segera aku tuangkan dalam diari-ku.

Pun, ketika kami sekeluarga dan keluarga Pamanku menuju kampong halaman Ayah di daerah Jawa Tengah. Kami menaiki kereta api, dengan segala keunikan transportasi ini yang membuat semangatku menyala. Sedari shubuh hari saat aku terbangun dari tidur, aku segera mempersiapkan segala kebutuhanku. Dan tak lupa buku catatan kecilku yang selalu setia menemani setiap perjalananku.

Di dalam kereta yang sedang menuju kota Kutoarjo, Jawa Tengah, aku tak sedetikpun melewatkan setiap momen yang tercipta. Ketika kereta melintas persawahan, dengan hamparan sawah yang berundak-undak seperti tangga raksasa dengan tanaman padi yang menghijau. Aku melihat gunung-gunung yang menjulang dengan tumpukan awan di atasnya. Kemudian, rel melintas jalan raya yang sedang ramai, terlihat kendaraan yang berjejer rapi menunggu palang terbuka tanda kereta api telah melintas. Iseng, aku sering melambaikan tangan kepada mereka yang sedang menunggu. Dan adikku pun akan tertawa melihat tingkahku. Ibu akhirnya menggeleng-gelengkan kepala. Sayang sekali, pada saat itu ponsel dengan kamera cantiknya belum ada. Jadi kami sedikit sekali mengabadikan pemandangan-pemandangan indah itu dalam gambar. Tapi, tak mengapa, toh aku sudah merekamnya dalam bentuk tulisan di buku harianku.

Di kampung halaman Kakek di desa juga memberikan kenangan manis. Aku berkenalan dengan teman-teman dengan bahasa daerah yang berbeda dengan bahasa yang kami pergunakan sehari-hari di Pontianak. Mereka juga sering bermain kesawah, mandi di sungai yang airnya jernih, menangkapi ikan-ikan kecil yang banyak sekali berenang-renang di sungai. Suasana yang asri dan sejuk sungguh membuat kami merasa nyaman. Karena di daerahku, aku jarang sekali menemui suasana seperti disini, aku sangat betah disini. Aku menikmati menjadi seorang anak yang bermain dengan alam.

 

Liburan pun usai, saatnya aku harus kembali ke kotaku. Dengan sejuta kenangan indah yang hampir selesai aku tulis di buku catatanku. Dan disinilah aku, di meja belajar kesayanganku, setelah selesai makan, aku segera masuk kembali ke kamarku dan menyelesaikan tulisanku. Rencananya aku akan memberikan kepada Ibu dan meminta Ibu membaca, karena besok, tulisanku akan dikumpulkan. Ya, aku memilih sendiri tugasku ketika liburan, yaitu mengarang. Tugas Bahasa Indonesia yang sangat aku senangi.

Dengan hati berdebar, aku menyerahkan karanganku kepada guruku. Bu Romlah, guru Bahasa Indonesia menerima hasil karyaku dengan tersenyum.

“Wah, panjang sekali nak, hasil karyamu” kata Bu Romlah selanjutnya

“Iya Bu, ini adalah cerita saya ketika berlibur kemarin ke desa Kakek di Jawa Tengah” jelasku juga sambil tersenyum

“Baiklah, akan Ibu baca dulu ya, nanti kalo sudah Ibu nilai akan Ibu kembalikan” jawab Bu Romlah

Aku mengangguk senang dan segera kembali ke bangkuku.

Beberapa minggu setelah hasil karyaku dikumpulkan, aku di panggil oleh Bu Romlah ke ruangan Kepala Sekolah. Aku terkejut, bagaimana tidak, selama ini aku telah berusaha menjadi murid yang baik, berusaha mengikuti pelajaran dengan baik dan hampir tidak pernah mengerjakan kesalahan. Dengan perasaan takut, aku melangkah ke ruangan Kepala Sekolah.

“Permisi, Assalammualaikum Pak” sambil mengetok pintu aku mengucapkan salam

“Waalaikumsalam, silahkan masuk, Tiara” kudengar suara jawaban dari balik pintu

Dengan ragu, aku membuka pintu dan melangkah masuk ke ruangan kecil yang dingin itu.

“Sini duduk, nak. Jangan takut, tidak ada apa-apa kok” Jelas Bu Romlah

Akupun mendekati bu Romlah dan duduk disebelahnya. Aku melihat Pak Mukhlis, Kepala Sekolahku sedang membaca kertas. Tunggu sebentar, sepertinya itu adalah hasil karyaku yang aku kumpulkan beberapa minggu lalu.

“Tiara, ini hasil karangan kamu, nak” Pak Mukhlis bertanya kepadaku, sambil mengangkat kertas yang dibacanya tadi

“I-Iya Pak” Jawabku dengan gugup

Aku melihat Pak Mukhlis tersenyum

“Selamat nak, hasil karyamu terpilih menjadi juara 1 tingkat Kabupaten Pontianak dan akan mewakili sekolah untuk lanjut di tingkat Propinsi” Jelas Pak Mukhlis.

Aku terdiam dan terkejut.

“Maksud Bapak?” Tanyaku kembali

“Karya kamu yang terbaik diantara hasil tugas yang di kumpulkan teman-teman kamu. Kebetulan sedang ada lomba mengarang tingkat SD Sekabupaten, Ibu mengikutkan karyamu disana. Dan Alhamdulillah, karyamu berhasil menjadi yang terbaik dan akan mewakili Kabupaten ini ke tingkat Propinsi” Jelas Bu Romlah

“Alhamdulillah, horeeeee” aku berteriak tanpa sadar

Bu Romlah dan Pak Mukhlis tertawa melihat ungkapan senangku.

“Berlatih ya nak, Bu Romlah akan membimbingmu. Semoga sukses” Pak Mukhlis kembali mendoakan aku.

Dengan tidak sabar aku segera pulang dan menyampaikan kabar gembira itu kepada Ibu. Ibu juga tidak kalah senang denganku. Ibu memeluk dan menciumiku. Alhamdulillah, kata beliau

Semenjak itu, aku rajin berlatih dan dibimbing oleh Bu Romlah. Ibu dan teman-temanku juga selalu memberiku semangat.

Dan tibalah hari itu. Dimana aku bersama para finalis lainnya berkumpul di gedung pertemuan untuk menulis karangan terbaik, berdasarkan ilmu yang telah dilatih oleh guruku. Akupun berjuang dengan penuh semangat. Dan Alahamdulillah, aku memenangkan juara kedua tingkat Propinsi untuk Lomba Mengarang tingkat SD.

Dan inilah awal keinginanku untuk terus menulis dan membagikan hal apapun yang ada didalam benakku kedalam tulisan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Aku terus melanjutkan impianku untuk menulis, hingga saat ini. Memang tidak gampang memupuk semangat untuk terus berkarya. Apalagi, dengan kesibukanku sebagai Ibu Rumah tangga dan wanita pekerja. Seringkali kelelahan membuat otakku menjadi buntu. Dan akhirnya, banyak tulisan yang tidak terselesaikan sesuai dengan targetku.

Suatu hari, aku pernah mengalami kejadian tidak menyenangkan yang saat itu menguras emosiku. Akupun segera menumpahkan kekesalanku di catatan kecil di ponsel kesayanganku. Yah, mengikuti perkembangan zaman, catatanku tidak lagi berupa buku harian, melainkan catatan kecil di  ponsel pintarku. Seringkali aku begitu. Bagiku menulis merupakan tumpahan rasa. Jika ada hal yang tidak bisa aku ucapkan dengan lisanku, maka semua akan tertumpah melalui tulisan. Makanya  menulis merupakan healing bagiku. Dulu, sebelum banyak bermunculan platform komunitas menulis online seperti sekarang ini, aku sering menyewa buku cerita, sekedar menambah referensi bacaanku. Selain pergi ke perpustakaan tentunya. Namun sekarang, kita telah dimanjakan oleh berbagai macam media online yang menampilkan karya-karya yang dapat menghibur. Mulai dari yang gratis sampai yang berbayar . tentu saja ini menambah semangatku untuk mencoba peruntunganku melalui tulisan-tulisan.

Namun ternyata, memulai suatu karya itu tidak seindah harapan. Ketika aku memberanikan diri untuk mempublikasikan salah satu tulisanku di media menulis dan membaca online, ternyata respon tak terduga aku terima. Ketika itu aku di bully oleh para pembaca justru bukan karena gaya bahasa, diksi maupun ejaan dari tulisan yang kuhasilkan. Namun, isi tulisan. Sudut pandang ceritaku ternyata berbeda dengan sudut pandang para pembaca. Dan mereka pun mengkritik tanpa ampun. Dalam jangka waktu 1 jam, aku menerima 1000 komentar. Namun, ada pula beberapa netijen yang sependapat dengan sudut pandangku. Dan ini akhirnya sembuat semangatku turun lagi. Beberapa ide tulisan yang muncul di otakku, tiba-tiba menghilang. Ah, se baper itu ya aku. dan tulisan tersebut, akhiarnya aku hapus. Daripada membuatku sakit hati akibat beberapa kalimat dan doa yang tidak semestinya tertulis. Menjaga kewarasan, demikian kata orangtua. Akhirnya, aku putuskan untuk tidak lagi mengikutkan tulisan-tulisanku di komunitas online tersebut. Aku berpikir, aka nada saat yang tepat, tempat yang tepat untuk mempublikasi karyaku. Lebih baik berpikiran positif kan, daripada aku hati dan pikiranku ikut teracuni ketikan-ketikan pedas yang menurutku tidak kritikal.

 

 

 

 

Sejak saat itu, aku seolah menjadi malas untuk merangkai kata-kata. Namun, kesukaan saya untuk membaca masih tetap sama. Mungkin karena selama ini juga saya disibukkan oleh beberapa aktivitas seputar pekerjaan dan rumah tangga, jadinya, keinginan untuk menulis menghilang begitu saja. hingga suatu hari ada sesuatu yang membuat saya begitu tersentil.

Anak – anak saat itu sedang berkunjung kerumah kakek neneknya di kota sebelah, Karena hari libur dan mereka juga rindu kepada kakek neneknya. Saya pergunakan waktu libur dengan membersihkan semua sudut rumah, termasuk kamar anak-anak. Anak-anak saya memang tidur berdua, karena rumah kami hanya memiliki 2 kamar. Aku memulai pekerjaanku dengan membereskan meja belajar. di tumpukan buku aku menemukan buku catatan si bungsu, Rizky. Aku tersenyum. Rupanya dia juga memiliki hobby yang sama denganku. Menulis buku catatan. Aku buka satu persatu halaman buku kecil itu. Sesekali aku tersenyum sambil membaca untaian kalimat yang dia tuliskan disana. Dia sangat pandai merangkai kata. Mungkin karena dia gemar membaca, sehingga perpustakaan katanya lumayan banyak. Dia masih kelas 4 SD, tapi tulisan-tulisannya begitu menyentuh.

Sambil duduk, aku membaca isi buku itu, dan ada satu kalimat yang membuatku tertegun dan merasa tersentil.

“Kata Mama,  menggapai mimpi tidak gampang, akan banyak aral melintang didepanmu, tapi kamu tidak boleh berhenti dan menyerah, terus saja berjalan, pelan – pelan, kamu akan gapai semua impianmu ”

Kalimat tersebut di tulis dengan tinta merah, dan huruf besar, artinya, kalimat tersebut merupakan hal penting baginya. Aku tidak tahu kapan pernah menasihatkan kalimat itu kepadanya. ternyata itu menjadi ingatan yang membekas di memorinya. Alhamdulillah, banyak hal positif yang dia serap dari setiap nasihat-nasihatku kepadanya. dan akupun malu, aku sekarang merasa tidak memberikan contoh yang baik kepada anakku dengan menjadi lemah dan tidak bersemangat seperti sekarang ini. Baiklah, Mama akan berikan contoh yang baik pada kalian nak. Mama akan terus semangat meneruskan impian Mama sejak kecil. Janjiku pada diri sendiri.

 

Akhirnya, dengan semangat yang kembali menyala, aku berniat menyelesaikan cerita yang beberapa hari lalu sempat terhenti. Aku juga kembali belajar mengikuti kelas online menulis untuk pemula. Bagaimana alur yang baik, bagaimana  kita mendeskripsikan sudut pandang tanpa membuat persepsi yang tidak enak bagi pembaca. Dan harus banyak berlatih. Karena tanpa latihan, tidak akan menjadi pandai dalam bidang apapun. Seorang atlet yang memebangkan pertandingan adalah atlet yang terus menerus berlatih setiap hari. Sama juga seperti naik sepeda. Kita akan segera mahir jika kita terus berlatih. Jatuh sesekali, wajar. Tapi jangan lantas menyerah. Demikian juga dalam menulis. Semakin sering menulis, maka semakin lancar kita akan menuangkan ide ke dalam kertas.

Akupun menambah referensi buku, karena dengan membaca akan mendapatkan banyak ide dan kosakata yang cukup. Ibaratnya sebuah tulisan itu adalah sebuah produk, maka membaca adalah bahan baku yang harus dipersiapkan. Bila bahan baku cukup dan bahkan lebih, maka tentu produksi akan melimpah ruah. Terus belajar dan belajar. itulah yang aku bisa ambil dari pengalaman terdahulu. Dan yang terpenting adalah, jangan menyerah. Mengembangkan sebuah ide menjadi suatu tulisan yang menarik, tentu tidak gampang. Perlu kreatifitas dan daya imajinasi yang luas. Namun, hal tersebut pasti butuh kemauan dan tekad keras.

Jadi, tetaplah semangat menggapai apapun impian kita. Kadang, kita memang harus belajar dari banyak hal. Termasuk dari anak kita. Keep Fight !!

Bagikan ke

My Passion

Saat ini belum tersedia komentar.

Silahkan tulis komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan kami publikasikan. Kolom bertanda bintang (*) wajib diisi.

*

*

My Passion

Sidebar

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah:

Chat via Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

Budita
● online
Budita
● online
Budita
● online
Halo, perkenalkan saya Budita
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja